Pemimpin itu dibentuk dan dibina, bukan
dilahirkan begitu saja. Itulah kalimat awal yang dengar tentang Rumah
Kepemimpinan ini, dimana ini adalah tungku perapian yang membara tempat di
tempanya pemuda pemuda emas Bangsa Indonesia sebagai bekal untuk mewujudkan
Indonesia yang lebih baik dan mertabat. Saya percaya bahwa Negara ini masih di
jajah, masih di jajah oleh kebodohan, masih di jajah oleh tikus tikus berdasi,
masih di jajah oleh kedangkalan Iman, dan masih di jajah oleh kemiskinan, untuk
itu Negara ini memerlukan pemimpin pemimpin yang bisa membawa bangsa ini untuk
berani meledakkan, menghancurkan dan meruntuhkan segala jenis penjajahan itu.
Berbicara tentang membentuk seorang Pemimpin
maka itu tidak lepas dari kata penderitaan dan pengorbanan dalam mencapai hal
tersebut, karena saya yakin dan percaya bahwa orang orang yang besar itu adalah
orang orang yang telah mengalami berbagai macam rintangan di masa lalunya, “Bagaikan sebuah emas yang tak menentu
bentuknya tapi emas itu di panaskan, di tempa dan melewati proses yang
menyakitkan hingga pada akhirnya emas itu menjadi sebuah perhiasan yang sangat Indah dan berharga”
Indonesia saat
ini tidak mengalami krisis SDM yang pintar tapi Indonesia saat ini mengalami
krisis SDM yang Jujur . Krisis ini terjadi karena dangkalnya keimanan para
pemimpin pemimpin bangsa, dalam artian terjadi kekosongan dalam jiwa spiritual
mereka. Oleh karena, hal yang membuat saya kagum saat pertama kali saya memasuki
Rumah Kepemimpinan ini adalah penguatan jiwa spiritualnya. Dulu ketika saya
hanya sekedar mengetahui kagiatan kegiatan dalam Rumah kepemimpinan ini (pada
masa pendaftaran), saya berpikiran bahwa kegiatan kegiatan itu biasa biasa saja.
Tapi ketika saya memasuki dan mejalani segala jenis agenda tersebut terkhusus
dalam hal spiritual, maka saya baru sadar bahwa semua kegiatan ini membuat jiwa
ini lebih dekat dengan-Nya, Hampir segala jenis kegiatan yang ku jalani terasa
di mudahkan oleh-Nya.
Di suatu malam
yang hening, air dingin itu membasahi wajah ini. Ku sujudkan raga dan jiwa ini
hanya kepada-Nya, hingga pada akhirnya ketika aku telah usai menengadahkan kedua tanganku, tanpa sengaja ku
tertawa mengenang masa laluku yang bisa di bilang berada pada keadaan yang
begitu gelap dan pahit (masa SMP). Pada masa itu aku sering meninggalkan
perintah-Nya dan lebih memilih mementingkan urusan duniaku. Tidak lama kemudian
dalam tawa kecil ku itu, berganti menjadi tangisan kecil, tangisan yang keluar
karena mengingat kebaikan kebaikan dari-Nya meski aku telah meninggalkan
perintah-perintah-Nya. Di malam itu juga, jiwa kepemimpinan ini kembali di
segarkan bahwa pemimpin itu bukan hanya sekedar isi otaknya tetapi juga
menuntut isi hatinya.
Jam dinding
telah menunjukkan pukul 11:00, dosen mulai menutup kegiatan pada mata kuliah
itu. Aku bergegas keluar dari ruangan sambil mengaktifkan kembali handphoneku.
Aku mulai membaca pesan yang masuk baik itu yang social media maupun di
mesanger di kartuku. Hingga pada akhirnya aku membuka group telegram RK7.8
Makassar dan kudapati grafiik grafik dari hasil kegiatan kami selama sebulan.
Saat itu saya lebih termotivasi lagi karena melihat pencapaian yang di lakukan
teman teman terkhusus dalam hal pencapaian spiritual. Saya termotivasi untuk
lebih dan lebih dari pada hari kemarin. Karena mereka bisa melakukan hal itu
maka saya juga bisa melakukan hal itu. Kalimat terakhir yang mengewakili
kesanku di bulan pertama ini bersama pemuda emas bagsa ini adalah :
“Bangsa ini butuh orang jujur dan
cerdas BUKAN orang cerdas dan pendusta”
Penulis : Fikrang
