Kamis, 11 Mei 2017

Revolusi Cahaya Lilin Kecil Menjadi Cahaya Matahari



Pemimpin itu dibentuk dan dibina, bukan dilahirkan begitu saja. Itulah kalimat awal yang dengar tentang Rumah Kepemimpinan ini, dimana ini adalah tungku perapian yang membara tempat di tempanya pemuda pemuda emas Bangsa Indonesia sebagai bekal untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan mertabat. Saya percaya bahwa Negara ini masih di jajah, masih di jajah oleh kebodohan, masih di jajah oleh tikus tikus berdasi, masih di jajah oleh kedangkalan Iman, dan masih di jajah oleh kemiskinan, untuk itu Negara ini memerlukan pemimpin pemimpin yang bisa membawa bangsa ini untuk berani meledakkan, menghancurkan dan meruntuhkan segala jenis penjajahan itu. Berbicara tentang membentuk seorang Pemimpin maka itu tidak lepas dari kata penderitaan dan pengorbanan dalam mencapai hal tersebut, karena saya yakin dan percaya bahwa orang orang yang besar itu adalah orang orang yang telah mengalami berbagai macam rintangan di masa lalunya, “Bagaikan sebuah emas yang tak menentu bentuknya tapi emas itu di panaskan, di tempa dan melewati proses yang menyakitkan hingga pada akhirnya emas itu menjadi sebuah perhiasan yang sangat Indah dan berharga”
Indonesia saat ini tidak mengalami krisis SDM yang pintar tapi Indonesia saat ini mengalami krisis SDM yang Jujur . Krisis ini terjadi karena dangkalnya keimanan para pemimpin pemimpin bangsa, dalam artian terjadi kekosongan dalam jiwa spiritual mereka. Oleh karena, hal yang membuat saya kagum saat pertama kali saya memasuki Rumah Kepemimpinan ini adalah penguatan jiwa spiritualnya. Dulu ketika saya hanya sekedar mengetahui kagiatan kegiatan dalam Rumah kepemimpinan ini (pada masa pendaftaran), saya berpikiran bahwa kegiatan kegiatan itu biasa biasa saja. Tapi ketika saya memasuki dan mejalani segala jenis agenda tersebut terkhusus dalam hal spiritual, maka saya baru sadar bahwa semua kegiatan ini membuat jiwa ini lebih dekat dengan-Nya, Hampir segala jenis kegiatan yang ku jalani terasa di mudahkan oleh-Nya.
Di suatu malam yang hening, air dingin itu membasahi wajah ini. Ku sujudkan raga dan jiwa ini hanya kepada-Nya, hingga pada akhirnya ketika aku telah usai  menengadahkan kedua tanganku, tanpa sengaja ku tertawa mengenang masa laluku yang bisa di bilang berada pada keadaan yang begitu gelap dan pahit (masa SMP). Pada masa itu aku sering meninggalkan perintah-Nya dan lebih memilih mementingkan urusan duniaku. Tidak lama kemudian dalam tawa kecil ku itu, berganti menjadi tangisan kecil, tangisan yang keluar karena mengingat kebaikan kebaikan dari-Nya meski aku telah meninggalkan perintah-perintah-Nya. Di malam itu juga, jiwa kepemimpinan ini kembali di segarkan bahwa pemimpin itu bukan hanya sekedar isi otaknya tetapi juga menuntut isi hatinya.
Jam dinding telah menunjukkan pukul 11:00, dosen mulai menutup kegiatan pada mata kuliah itu. Aku bergegas keluar dari ruangan sambil mengaktifkan kembali handphoneku. Aku mulai membaca pesan yang masuk baik itu yang social media maupun di mesanger di kartuku. Hingga pada akhirnya aku membuka group telegram RK7.8 Makassar dan kudapati grafiik grafik dari hasil kegiatan kami selama sebulan. Saat itu saya lebih termotivasi lagi karena melihat pencapaian yang di lakukan teman teman terkhusus dalam hal pencapaian spiritual. Saya termotivasi untuk lebih dan lebih dari pada hari kemarin. Karena mereka bisa melakukan hal itu maka saya juga bisa melakukan hal itu. Kalimat terakhir yang mengewakili kesanku di bulan pertama ini bersama pemuda emas bagsa ini adalah :

“Bangsa ini butuh orang jujur dan cerdas BUKAN orang cerdas dan pendusta”


Penulis : Fikrang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar